Selasa, 12 Oktober 2010

KELAS X.BAB 1 . SEJARAH PERKEMBANGAN SOSIOLOGI

-->

Peter Berger memiliki argumentasi bahwa pemikiran sosiologis berkembang saat masyarakat menghadapi ancaman terhadap hal-hal yang selama ini dianggap sebagai sesuatu yang memang sudah seharusnya demikian, benar, nyata.
tokoh-tokoh pemuka pemikiran sosiologi, yakni Saint-Simon, Comte, Spencer, Durkheim, Weber, Simmel, Marx, Sorokon, Mead, Cooley, Thomas, Goffmans, Homans, Thibaut dan Kelly, Mannheim, Blau, Parsons, Mertons, Mills, Dahrendorf, Coser, dan Collons. Antara pemikiran para perintis awal dan para tokoh sosiologi masa kini terdapat suatu kesinambungan. Sebagian besar konsep dan teori sosiologi pada masa kini berakar pada sumbangan pikiran para tokoh klasik.
Para ahli akan cenderung sepaham bahwa Comte, Spencer, Durkheim, Marx, dan Webber merupakan perintis sosiologi. Comte dianggap sebagai perintis positivisme. Sumbangan pikiran lain yang diberikan Comte adalah pembagian sosiologi ke dalam dua bagian besar : statika sosial dan dinamika sosial.
Sumbangan utama Marx bagi sosiologi terletak pada teorinya mengenai kelas. Menurut Marx perkembangan kapitalisme menumbuhkan dua kelas yang berbeda : bourgeoisie dan kaum proletar. Dalam konflik yang berlangsung pada kedua kelas kaum bourgeoisie akan dikalahkan. Marx meramalkan bahwa kaum proletar kemudian akan mendirikan suatu masyarakat tanpa kelas.
Buku The Division of Labor in Society merupakan suatu upaya Durkheim untuk memahami fungsi pembagian kerja serta untuk mengetahui faktor-faktor penyebabnya. Durkheim melihat bahwa setiap masyarakat manusia memerlukan solidaritas. Ia membedakan antara dua tipe utama solidaritas: solidaritas mekanis, dan solidaritas organis. Lambat laun pembagian kerja dalam masyarakat semakin berkembang sehingga solidaritas mekanis berubah menjadi solidaritas organis.
Dalam buku Rules of Sociologycal Method Durkheim menawarakan definisinya mengenai sosiologi. Menurut Durkheim, bidang yang harus dipelajari sosiologi adalah fakta-fakta sosial.
Buku Suicide merupakan upaya Durkheim untuk menerapkan metode yang telah dirintisnya untuk menjelaskan sebab-sebab terjadinya bunuh diri. Usahanya dilakukan dengan mengumpulkan dan menganalisa data kuantitatif.
Weber merupakan seorang ilmuan yang sangat produktif. Salah satu bukunya yang terkenal adalah The Protestan Ethic and The Spirit Capitalism. Dalam buku ini ia mengemukakan tesisnya yang terkenal mengenai keterkaitan antara Etika Protestan dengan munculnya Kapitalisme di Eropa Barat.
Weber menyebutkan bahwa sosiologi adalah ilmu yang berupaya memahami tindakan sosial. Sumbangan Weber yang tidak kalah pentingnya adalah kajian mengenai konsep-konsep dasar dalam sosiologi.
Menurut Durkheim sosiologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari fakta sosial. Durkheim berpendapat bahwa fakta sosial ialah cara-cara bertindak, berfikir, dan berperasaan , yang berada di luar individu, dan mempunyai kekuatan memaksa yang mengendalikannya.
Sedangkan menurut Weber sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tindakan sosial. Karena sosiologi bertujuan memahami mengapa tindakan ssosial mempunyai arah dan akibat tertentu, sedangkan tiap tindakan mempunyai makna subjektif bagi pelakunya, maka ahli sosiologi harus dapat membayangkan dirinya di tempat pelaku agar dapat ikut menghayati pengalamannya.
Mills memiliki pandangan bahwa manusia memerlukan khayalan sosiologis untuk dapat memahami sejarah masyarakat, riwayat hidup pribadi, dan hubungan antara keduanya. Untuk melakukannya diperlukan dua peralatan pokok: apa yang dinamakan personal troubles of milieu dan public issues of social structure.
Berger mengajukan sebagai citra yang melekat pada ahli sosiologi, yaitu sebagai seseorang yang suka bekerja dengan orang lain, menolong orang lain, melakukan sesuatu untuk oarng lain,misalnya seseorang teoritikus di bidang pekerjaan sosial, seseorang yang melakukan reformasi sosial, seseorang yang pekerjaannya mengumpulkan data statistic mengenai perilaku manusia, orang yang mencurahkan perhatiannya pada pengembangan metodologi ilmiah untuk dipakai dalam mempelajari fenomena manusia, dan seorang pengamat yang memelihara jarak (seorang manipulator manusia). Berger mengemukakan bahwa berbagai citra yang dianut oleh orang tersebut tidak tepat, keliru, dan menyesatkan.
Menurut Berger seorang ahli sosiologi bertujuan memahami masyarakat. Berger berpendapat bahwa daya tarik sosiologi terletak pada kenyataan bahwa sudut pandang sosiologi memungkinkan kita untuk memperoleh gambaran lain mengenai dunia yang telah lama kita tempati sepanjang hidup kita.
Suatu konsep lain yang disoroti Berger adalah konsep ”masalah sosiologis”. Menurut Berger suatu masalah sosiologi tidak sama dengan suatu masalah sosial; masalah sosiologis menyangkut pemahaman terhadap interaksi sosial.
Sejumlah ahli sosiologi mengklasifikasikan pokok bahasan sosiologi ke dalam dua bagian, namun ada pula yang membagi ke dalam tiga bagian. Selznick dan Broom membedakan antara tatanan makro dan tatanan mikro, Douglas membedakan antara perspektif makrososial dengan perspektif mikrososial, Jhonson membedakan antara jejang makro dan jenjang mikro, dan Collins membedakan antara sosiologi makro dan sosiologi mikro. Lenski mengemukakan bahwa dalam sosiologi terdapat tiga jenjang analisa: sosiologi mikro, sosiologi meso, dan sosiologi makro. Inteleks pun melihat bahwa sosiologi mempunyai tiga pokok bahasan yang khas, yaitu hubungan sosial, institusi, dan masyarakat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar